Hei kamu,Aku merindukanmu.......

Rabu, 30 September 2015



Selamat malam pengisi hati.
Apa kabar? Nampaknya dua hari ini kamu begitu sibuk dengan urusanmu.Bisakah kamu Sisakan sebentar waktumu? cukup sebentar saja untuk kamu bisa beristirahat,untuk kamu bisa sebentar tertidur lelap dalam lelahmu.Maafkan aku yang kemarin sempat marah padamu,memintamu untuk memperhatikanku disaat kamu sibuk dengan tanggung jawabmu.Kini aku sadar,tak selamanya kamu akan terus berada disampingku,mendengar cerita konyolku dan selalu hadir menjadi bagian dalam aktivitasku disekolah.Bukankah seorang penyair mengatakan bahwa seindah apapun huruf yang terukir baru akan bermakna jika terdapat jarak diantaranya?.Dan mungkin sekarang kita mengalami fase jarak yang dimaksud olehnya.
Biarkan,biarkan semuanya seperti ini.Kamu dengan kesibukanmu dan aku dengan rutinitasku,semoga jarak yang tercipta diantara kita tidak terlalu jauh.Juga tidak menjadikanmu sebagai seseorang  yang “asing” dalam hidupku.
Percayalah,aku tidak akan menunjukan sikap kekanak-kanakanku kepadamu.Walaupun kadang hati ini sempat mengumpat sendiri didalam sana,namun aku akan terus belajar sabar untukmu.Belajar untuk tidak memintamu menomorsatukanku,belajar agar tidak merengek meminta waktumu seperti kemarin,dan belajar untuk memahami keadaan mu.
Simpanlah semua kata maaf atas kesibukanmu,karna aku tidak pernah membutuhkan itu.Aku tidak butuh rasa bersalahmu yang justru membuatku juga merasa bersalah.Karna disini tidak ada yang harus disalahkan,tidak ada yang harus dipojokan,dan tidak ada yang perlu meminta maaf.

Hei Pengisi hati.
Setabah apapun hati ini,Sesabar apapun diri ini.
Percayalah.
Untuk sekarang ,aku merindukanmu dengan sebenar-benarnya.


               

Sebuah senja singkat

Minggu, 27 September 2015



Untuk Hari Ini,26 September 2015..
Hari yang begitu lama ku tunggu dan juga ku harapkan.Hari yang aku nantikan setelah tanggal 9 september lalu.Hari dimana aku bisa benar-benar mendapatkan waktumu untuk sebentar saja.Walaupun hanya sekedar berjalan di toko buku tanpa maksud dan tujuan,aku tak akan pernah melupakanya.
Hingga tak terasa 60 menit berlalu,kita masih saja kesana-kemari membaca jajaran sinopsis buku untuk menyibukan diri.Meskipun sesekali kita bermain tebak-tebakan jawaban di sebuah kumpulan buku soal yang membuatku pusing sendiri.
Tubuhmu yang tinggi dan sigap membuatku merasa nyaman saat berjalan dibelakangmu.Mendengarkan tawa dan suara khasmu membuatku ingin memperlambat waktu yang tengah berlalu.Walaupun kadang ku bertanya didalam hati,apa benar aku sesenang ini saat aku berjalan bersamamu?  Tentu saja jawaban itu ada dalam senyumku saat ini.Senyum yang mengungkapkan kerinduanku pada sosok yang pernah hilang bertahun-tahun yang lalu.
Aku tak pernah merasakan kenyamanan ini sebelumnya,dimana aku dan kamu bisa sedekat ini.Bercerita panjang lebar ditengah berisiknya deru mesin disepanjang jalan,tanpa peduli kepada orang-orang yang mungkin juga turut mendengarkan.
Memang bukan sebuah kencan pertama yang besar dan istimewa,namun hal ini begitu sempurna untuk membuatku selalu untuk mengingatnya.
Terimakasih untuk hari ini.

Catatan rindu diperjalanan itu.

Minggu, 20 September 2015



Di hari ke 11 yang berbahagia ini.
Aku merasakan rindu yang teramat dalam padamu,karna hari ini tak sedetikpun mata kita bisa saling bertemu.Suaramu yang khas membuatku ingin dan ingin mendengarkanya saat ini juga.Serta senyum mu yang hari ini tidak bisa kulihat,membuatku jemu atas pijakan waktu yang telah berlalu.
Barisan lampu gunung kota semarang membuatku ingin segera pulang dan kembali bersekolah.Kembali menyelesaikan hari lelahku bersamamu dan kembali melambungkan tinggi mimpi kita masing-masing.
Lucu memang,setelah aku mulai lupa cara merindukan seseorang.Rangkaian kata dalam namamu seakan berebut berbaris di otak ku menjadi yang nomor satu.Hingga memaksa hatiku untuk turut bersedih dalam kerinduan itu.
Wahai kerinduan ku,jangan biarkan rasa percaya ini terkalahkan oleh rasa curiga yang tak bersebab.Biarkanlah aku merasa tenang,untuk sebentar saja.
              

Rabu, 16 September 2015

Kepada perasaan khawatir yang masih selalu hadir.Juga pada rasa curiga yang masih sering menyela.Terutama kepada rasa cemburu yang masih selalu mengganggu.
Untuk hari ini,seminggu setelah senja itu.Aku masih menyayangimu,bukan sebatas kumpulan kalimat pada sebuah paragraf.Bukan sebatas kalimat rayu untuk meyakinkanmu bahwa aku mencintaimu.Aku masih ingin merasakan semua rasa ini untuk lebih lama lagi,tanpa mengenal kalimat “selesai” dan juga “usai”.Aku masih ingin bercerita denganmu dihari-hari lelahku walaupun kita tak selalu bertemu.Mengertilah sayang,disaat kamu sibuk dengan urusan dan masalahmu,aku disini ada untuk merindukanmu.Serta berharap kamu mau bercerita padaku atas apa yang terjadi pada dirimu.Meskipun sering kamu pendam sendiri masalah itu dan kembali menghiburku seolah tak pernah terjadi apa-apa.Dikala rasa cemburu itu mulai menghardikku,aku hanya bisa tersenyum dan meyakinkan hati bahwa kamu hanya untukku.Terkadang aku merasa konyol,disaat aku harus sibuk memikirkan celotehan adik kelas untuk kemudian ku jadikan alasan untuk mencemburuimu.Entah itu akan menyakitkanku atau tidak,percayalah aku ingin merasakan hal ini lebih lama lagi.
Jika boleh aku berharap lebih,aku ingin kamu menjadi tempat ke tigaku mengadu,setelah Tuhanku dan juga Orang tua ku.Tetaplah menjadi dirimu yang sekarang.Kamu dengan kesibukanmu dan aku dengan rutinitasku.Biarkan semua ini mengalir dengan sendirinya dengan perasaan yang ada.Kamu untukku dan aku untukmu.
Jangan biarkan waktu dan keadaan memisahkan kita lagi seperti berberapa tahun yang lalu.Terimakasih untuk waktu yang sering kamu sempatkan untukku.

                                                                                                Seseorang yang masih bersama mimpi-mimpinya.
                                                                                                                 

                               Kapital A

Image result for You tumblr

Masih untuknya dan tentangnya pada tanggal 9 lalu.

Kamis, 10 September 2015


Rasa ini masih sama,masih seperti kemarin.Juga masih pada objek yang sama,seseorang yang sering menungguku pulang di hari-hari lelahku.
Tanpa kusadari sebelumnya, aku tak pernah bisa menebak jalan cerita ini.Kamu yang sebelumnya begitu jauh tiba-tiba mulai masuk dalam ucap doa dalam sujudku.Mulai membuatku khawatir ketika kamu tiada kabar diluar sana.Juga sering membuatku kesal karna pesan-pesan text mu yang mendadak singkat tanpa alasan.
Hei huruf kapital pertamaku,
Kurasa kamu begitu hebat,membuatku kembali merasakan rasa itu setelah berberapa kali kegagalan ku dalam cerita-ceritaku kemarin.Kamu membuatku kembali memikirkanmu,mendoakanmu dan mencemburuimu disaat banyak perempuan diluar sana yang mengidolakanmu.
Kamu kembali membuatku percaya atas komitmen yang kamu buat kala senja itu,juga menuntunku seutuhnya hadir dalam hidupmu lagi.
Aku bahagia,namun aku juga takut untuk kembali melangkah bersamamu.Bagaimana jika suatu hari kita tak sejalan kemudian kita berpisah arah? Bagaimana jika suatu hari salah satu diantara kita jemu untuk saling memahami satu sama lain?
Ah sudahlah,mungkin perasaan ini hanya sebatas perasaan cemasku untukmu.
Hei the first Alphabet,
Aku berharap jalan cerita ini bukan hanya sebatas cerita singkat di penghujung masa putih abu-abu ini.Bukan hanya sekedar sekejap untuk menemani,kemudian pergi tanpa alasan pasti.
Terimakasih telah mencintaiku lagi.

                                                                                                                -Seseorang yang selalu merindukanmu-