Cerpenku: Cahaya Lilin kecil

Kamis, 27 Maret 2014



Cahaya Lilin Kecil
Oleh Asa Uswatun Khasanah

3 tahun sudah ku simpan rasaku ini pada seseorang.Seseorang yang selama ini hanya menganggapku hanya sebagai teman.Sejak kecil,Aku dan dia sangat dekat..Bagaikan bulan dan bintang yang slalu berdampingan.Dahulu aku hanya menganggapnya gak lebih dari sosok menyebalkan,namun semenjak usiaku menginjak belasan tahun ini.Aku merasakan hal yang berbeda denganya,aku mulai merasa cemburu ketika ia dekat dengan seorang teman perempuanya.
Malam ini seperti biasa,aku dan dia berada di bawah pohon yang berada diantara rumahku dan rumahnya .Kami mengirimkan harapan-harapan kita pada Tuhan dengan diterangi sebuah cahaya lilin kecil.Yaa,kami akan berdoa setelah lilin itu dinyalakan dan akan berhenti jika cahaya lilin itu padam.
“Apa doamu malam ini ?”,tanya Farhan kepadaku
“Aku berdoa agar seseorang yang aku sayangi tau bahwa aku sangat mencintainya”,ucapku padanya
“wah,pasti kamu doain buat kakak kelas itu kan? Hahaha”,ia tertawa mengejekku
Aku terdiam,aku memandang wajahnya yang kini mulai terbentuk wajah laki-laki yang hendak dewasa.Farhan yang kecil telah menjadi sosok yang istimewa dihatiku.Walaupun,dia takkan pernah tau tentang perasaanku & mungkin takkan pernah membalas rasaku itu.Yaa,karena pada suatu ketika aku menjumpainya di perpustakaan bersama seorang teman perempuan sekelasku.
“YUNAA !”,dia menyapaku namun aku pura-pura tak melihatnya dan pergi menjauhinya.Karna langkah Farhan lebih cepat dengan langkahku.Akhirnya aku pun terpaksa berhenti,dan melihat mereka berdua bergandengan.
“YUN ! nanti pulang sekolah jangan pulang dulu ya :D aku nanti mau ngasih Traktiran PJ buat kamu”,ia begitu bahagia mengatakanya  padahal kata-kata itu seperti petir yang menyambar-nyambar hatiku.Namun,aku nggak boleh terlihat sedih ataupun terlihat cemburu di depan mereka berdua karna bagiku kebahagiaan Farhan yang paling utama.
“WOY ! gimana yun ? bisa nggak”,ia menanyaiku lagi
“emm..maaf ya far aku nanti ada tugas kelompok.mmm aku rasa aku harus pergi .. oiya selamat ya”,aku pergi dari hadapan mereka
Setelah Farhan Jadian sama Nayla,ia kini mulai jarang bareng aku lagi.Ia kini bagaikan sopir,bodyguard,atau apalah bagi Nayla.Namun memang ini kenyataanya suka gak suka,ini semua memang benar-benar terjadi.
Malam ini ku berada di tempat biasanya aku dan Farhan bersama,walaupun terasa beda namun aku nggak akan melupakan tempat ini.Selama gak ada Farhan aku hanya menyalakan lilin hanya sampai setengah batang.Karna Aku dan Farhan telah sepakat bahwa Sebatang Lilin ini akan menjadi saksi tentang harapan 2 orang manusia.Dan aku selalu menaruh setengah batang lilin ini di sekitar tempat pembakaran lilin.
Karna malam sudah semakin dingin,Aku mulai menyalakan sebuah lilin dan tiba-tiba aku merasakan rindu yang sangat mendalam kepada Farhan.
Tuhan,kini aku benar-benar merasa sendiri.Karna ia,kini telah menjadi milik orang lain :’) Tuhan,salahkah aku untuk menangisi semua ini?pantaskah aku untuk cemburu pada Nayla? :’) Sampai kapan aku merasakan semua ini ? Apakah aku harus memendam perasaan ini lebih lama lagi?
Dari kejauhan ku lihat Farhan memasuki pintu rumahnya tanpa melihat ke arahku sedikitpun.
Farhan..Aku benar-benar merindukanmu. :’) sampai kapan kamu membuatku seperti ini? Merasa tersakiti dengan perasaanku sendiri.
Bulan berganti bulan,dan tahun pun juga turut berganti. Tiba saatnya kelulusan di SMA ku.
Kini,Farhan seakan menjadi orang lain bagiku.Boro-boro untuk menyapaku,kini melihatku saja ia sudah enggan. Namun rasa ini,tetap bertahan di dalam hatiku yang sudah beku.Beku karna dinginya sikap Farhan padaku.
(1 bulan berlalu...Dan aku akan  mengambil sebuah keputusan...)
Malam ini adalah malam terakhir aku di Indonesia,karna keluargaku akan pindah rumah keluar negri mengikuti Ayahku yang dipindah tugaskan.Namun,Sebelum aku pergi meninggalkan tempat kelahiranku,ku menyempatkan diri untuk pergi ke tempat istimewaku.Tempat dimana kenangan-kenangan itu masih tersinari oleh cahaya lilin kecil.Sambil menghabiskan cahaya lilin di malam terakhirku ini,Ku tuliskan sebuah surat untuknya,walaupun aku tak berharap banyak jika ia akan membacanya.
Dear Sahabat Masalaluku
Farhan Arqitya
Bertahun-tahun kita telah bersama farhan,dari kita masih ingusan,masih menjadi anak-anak nakal dan sampai kita menjadi seperti ini.Farhan,asal kamu tau ? aku sangat merindukanmu :’) walaupun kamu gak pernah menyadari itu..
Farhan,maafkan aku..aku harus jujur tentang semua ini.Tentang perasaan yang aku simpan bertahun-tahun lamanya.Farhan,Logiskah jika seorang sahabat yang lama bersama kini menginginkan sahabatnya untuk menjadi kekasihnya? Salahkah jika perasaan itu tumbuh dihatiku?dan PANTASKAH aku merasakan perasaan ini padamu???
Farhan,maafkan aku jika aku memiliki perasaan itu...Ku berharap kedepanya perasaan ini tak akan muncul kembali setelah ku utarakan semua ini padamu.
Oiya akupun sekalian ingin berpamitan kepadamu bahwa mulai besok aku dan keluargaku akan pindah rumah ke Singapura.
Namun,aku minta satuhal padamu..Sisakan ruang sedikit saja di dalam hatimu untuk aku sahabat kecilmu.Jika memang tak bisa di dalam,di luarpun tak apa :’) karna aku,hanyalah cahaya lilin kecil yang hampir padam tertiup angin.
Sahabatmu
Yunna Arrofa
Ku letakan surat itu didekat bekas-bekas batang lilin yang pernah aku nyalakan sebelumnya.Setelah cahaya lilin ini padam aku pun kembali kerumah.
Selang berberapa waktu kemudian,Farhan datang ke tempat yang selama ini ia abaikan.
“Ahh bodohnya aku selama ini !!! di bohongi oleh seorang Nayla.. padahal demi dia aku mengabaikan Yuna dan melupakan tempat ini !!!”,Ia lalu mengambil sebuah batang lilin
Setelah tempat itu mulai tersinari cahaya lilin,terlihatlah bekas-bekas setengah batang lilin dan sepucuk surat.Bekas-bekas batang lilin itu bagaikan saksi bisu bahwa selama ini Yunna slalu menunggunya.Kemudian,Farhan membaca surat itu dan ia terlihat sangat menyesal.
“maafkan aku yuna :’ aku menyesali semua ini...ternyata selama ini kamu menungguku bersama cahaya lilin kecil ini..kamu gak boleh pergi Yunaa !! gak boleh”,ia berlari menuju ke jendela kamar Yunna
Ia memanggil-manggil nama Yunna dan melemparkan kerikil kecil kearah kaca jendela ,namun tiada jawaban apapun karna suara Farhan dikalahkan oleh gemuruh Hujan.
Namun,usaha Farhan tak sia-sia.Yunna yang sebelumnya menutup pintu Jendelanya kini membuka jendela itu.
“Yunna !!! aku mohon kamu turun sekarang !! aku mau ngomong smaa kamu YUNNA !”,ia berteriak sekeras-kerasnya
Akhirnya Yunna turun kebawah dan menemui Farhan di tengah derasnya Hujan.
“Yunna aku mohon maafin aku ?jangan pergi tinggalin aku yun..”,Farhan kini berlutut di depanku
“maafkan aku farhan,namun rencana kepindahanku tak akan bisa diubah”,aku mulai terisak dalam tangisku
“Tapi yunna !! aku mencintaimu lebih dari sahabat ..kamu adalah satu-satunya wanita yang tulus mencintaiku ..aku mohon Yunna jangan pergi “,Farhan benar-benar memohon seakan tak peduli moralnya sebagai laki-laki
“Farhan,kini.. Cahaya lilin kecil telah padam ..Karna banyak badai,hujan dan petir yang seakan selalu memadamkan apinya.Cahaya lilin itu kini benar-benar telah mati.. skali lagi maafkan aku Farhan”,Ucapku sambil membuat Farhan berdiri
“baiklah yunna,jika memang tak ada kesempatan lagi untukku..aku akan menunggumu sampai kapanpun !”,ia kemudian pergi begitu saja meninggalkanku......
Tak selamanya yang bercahaya terang itu akan selalu menerangi kita,karna  justru cahaya terang itu mampu dengan mudah membakar kita dengan apinya.Tidak seperti cahaya lilin kecil,yang menghangatkan kita secara perlahan namun ia akan selalu menemani kita walaupun angin dan badai seakan ingin padamkan sinarnya.Namun Cahaya lilin kecil itu telah padam,dan mungkin tak akan pernah bisa bercahaya lagi..

Cerpenku :Pertunangan Semu



Pertunangan Semu...
Karya      : Asa Uswatun Khasanah

Pukul 20.30 WIB di depan gerbang kampus.
Di malam yang hampir terguyur hujan ini,aku menunggu kekasihku Herdy untuk menjemputku.Udara dingin seakan memaksa untuk masuk ke dalam jaketku.Gak biasanya Herdy membiarkanku untuk lama menunggu seperti ini.Dan Hpku juga kebetulan 10 menit yang lalu juga mati.
Karena lama menunggunya,aku tertidur di sebuah kursi panjang tua.Sesaat kemudian aku mendengar suara motor Herdy.Aku terbangun dan ku lihat wajahnya pucat dan tersenyum beku padaku.
“tumben kamu kok lama banget”,aku mulai menaiki motor Herdy
Ia sama sekali tidak menjawab,dan langsung menancap gas motornya.Di perjalanan Herdy tak berkata apapun,dia diam.Dan aku pikir dia kelelahan,jadi aku tak memaksakan diri agar dia berbicara.Di sebuah jalan ku melihat kerumunan orang dan aku rasa ada kecelakaan di jalan itu.Ku melihat sebuah sepeda motor yang rusak parah di tepi orang banyak itu.
“kasihan banget ya orang yang kecelakaan itu”,aku mulai berkomentar.
Lagi-lagi Herdy tak menjawab komentarku.Karna aku kesal aku memberanikan diri untuk menepuk pundak Herdy.Lengan herdy terasa sangat dingin.
“sayang,kamu kenapa sich dari tadi aku aja bicara kamu diem aja?kamu marah sama aku?”,Gerutuku
Dia diam dan memberhentikan sepeda motornya.Karena memang sudah sampai di depan rumahku.Ia membuka helm dan menggenggam tanganku
“Maafin aku ya..”,Ia terlihat lemah
Aku terdiam,baru kali ini ia terlihat seperti ini.Iapun pergi meninggalkan pelataran rumahku.
Ke esokan harinya.
Pukul07.30 Wib diruang makan
Mama & papa pergi pagi-pagi sekali sehingga aku sarapan sendiri.Kata Bi’ imah mereka pergi buru-buru .
Selesai sarapan aku menunggu jemputan dari Herdy.Lagi-lagi dia membuatku untuk lama menunggu.Semalam aku lupa untuk mengisi batterai hpku.
Karna takut Herdy tak bisa menjemputku akupun berangkat sendiri mengendarai motorku.
Sampai dikampus sahabat-sahabatku seakan menghilang dari pandanganku.
“Mereka kemana ya hufftt ga seru nich harus sendirian gini ...”,Gumamku sambil memainkan sedotan es ku.
Dari kejauhan ku lihat Herdy tersenyum padaku ia melambaikan tanganya padaku..Namun ia pergi begitu saja.Aku bergegas meninggalkan meja kantin no 7 itu dan berlari mengejarnya.
Ia pergi ke arah belakang kampus.Kini,aku berdiri tepat dibelakangnya.
“Herdy..”,Suasana seketika hening
Ia tersenyum beku Dan memandangku.
“Selamat ulang tahun ya fa,maafkan aku jika hari ini aku membuatkamu sedih..Aku sayang kamu”,ia meneteskan air mata
Astaga aku lupa..kalau hari ini ulangtahunku.Mungkin semalam itu Herdy diam karna ingin memberi surprise untukku.Namun mengapa Herdy malah pergi meninggalkan ku.Aku rasa ini adalah salah satu bagian surprise darinya..
“Ifa...!!”,ku lihat ketiga sahabatku mendekatiku.Mereka memelukku,namun ada yang berbeda dari mereka.
“selamat ulang tahun ya fa”,ucap Fika
“kamu harus tetep tegar atas semua ini”,ucap Anita kemudian
“makasih ya..maksud kalian tegar kenapa?”,aku bingung dengan ketiga sahabatku karna raut wajah mereka  terlihat sedih
“aku tau kamu sangat terpukul,dan kami juga ngerti kok fa..”,Fika malah menangis
“kalian kenapa?”,kini aku benar-benar sedikit berteriak
Mereka bertiga bingung melihatku.
“kenapa kalian diam ?”,
“fa,jadi kamu bener-bener gak tau apa yang terjadi”,Fika kini mulai menjelaskan
“Fa..Herdy..”,ia kemudian terdiam
“Herdy?kenapa Herdy tadi dia baru aja ngucapin selamat ulang tahun ke aku hloh?tau gak semalem dia tu diem gitu waktu jemput aku eh....”,
 “Ifa.. Herdy udah gak ada !”,Kini Anita memotong kata-kataku’
“nggak ada gimana?gak ada dikelas maksud kamu?”,aku bingung
“IFA.. HERDY UDAH PERGI.. DIA PERGI NINGGALIN KITA SEMUA. ! HERDY MENINGGAL DUNIA IFA !!”,kini Anita memelukku
“kalian apa-apaan sich bercanda kalian tu gak lucu banget tau gak”,aku kesal
“aku gak bercanda fa..Herdy bener-bener udah gak ada”,ia meyakinkanku
Aku terdiam..Aku seakan ingin hilang ditelan bumi.Aku tak pernah percaya hal ini bisa terjadi.Padahal jelas-jelas tadi Herdy ada disini,di dekatku.Tubuhku mulai lemas dan aku udah gak inget apa-apa setelah itu.
Saat aku terbangun ku mendengar suara surat yasin yang dibacakan oleh orang banyak.Dan aku segera keluar dari kamar yang tak asing bagiku itu.Ku melihat mama Herdy menangis di depan seorang jenazah.Tubuh itu terlihat kaku,seakan wajahnya memancarkan kesedihan yang mendalam namun ia seperti terlihat tersenyum beku sama dengan kebekuan senyuman Herdy semalam.Dan jasad itu memang benar-benar Herdy. Kini kulihat ia benar-benar tak bernyawa lagi.Aku mendekati tubuh tak bernyawa itu dan menangis untuknya untuk terakhir kalinya.
Bayang bayang Herdy seakan silir berganti teringat di dalam benakku.Saat ia pertama kali menyatakan cintanya padaku,saat aku harus cemburu pada dosen saat ia menjadi asisten dosen  di kampus,dan suara tertawa Herdy yang khas kini hanya tinggal kenangan .Pemakaman Herdy akan dilakukan keesokan harinya karna papanya masih berada di negeri Jiran.
Herdy..Aku tak pernah percaya jika kamu begitu cepat meninggalkanku dihari ulang tahunku ini.Aku takan pernah mampu untuk melupakanmu.Melupakan semua kenangan-kenangan yang pernah kita ukir bersama sejak SMA sampai hari ini.
Semalam penuh aku memutuskan untuk tidur di samping jasad Herdy.Menemani disampingnya sampai matahari pagi akan membawanya jauh dariku.
(Di sebuah tempat yang indah,penuh dengan kesunyian dan bunga-bunga yang bermekaran)
“Ifa..!”,suara itu sangat aku kenal dan aku mencari-cari suara itu.Kulihat seseorang yang membawakanku bunga dengan baju serba putih.
“Herdy...!”,aku memeluknya
.”Aku kecewa sama kamu Herdy,mana janji kamu?berberapa hari lalu kamu bilang untuk segera bertunangan denganku?tapi kenapa kamu malah pergi”,aku menangis dalam peluknya
“maafkan aku Ifa,mungkin di dunia kita tak mampu untuk bertunangan..Namun disini,kita akan melakukanya ”,ia tersenyum padaku
Herdy memakaikan cincin padaku.Cincin itu sangat-sangat indah.Ku lihat mata Herdy meneteskan airmatanya.Tiba-tiba dia hilang begitu saja.
“Herdy !!!”,ku mencoba mengejarnya
Namun seketika aku terbangun setelah mama Herdy membangunkanku.Ku melihat jari tanganku dan sebuah cincin telah melingkar di jari manisku.Cincin ini,sama persis dengan apa yang ku impikan tadi.Aku benar-benar tak menyangka semua ini bisa terjadi,mimpi itu seperti nyata dan cincin ini benar-benar ada dalam tanganku.Tiba-tiba ku melihat di sekitar mata Herdy terlihat bekas airmata.Ia benar-benar seperti orang yang hanya tertidur bukan seperti orang yang meninggal.Namun,mama Herdy tak pernah percaya tentang pertunangan semu ku bersama Herdy.Biarlah semua ini hanya Tuhan yang tau.Kuberharap Herdy tenang di sisi Tuhan.Dan aku akan selalu mengenangnya sebagai Pangeran dalam mimpiku :’)
“Ku tak bisa menggapaimu takkan pernah bisa walau sudah letih hati,tak mungkin lepas lagi..Kau hanya mimpi bagiku tak mungkin jadi nyata dan sgala rasa buatmu harus padam & berakhir..