Cahaya Lilin Kecil
Oleh Asa Uswatun Khasanah
3 tahun
sudah ku simpan rasaku ini pada seseorang.Seseorang yang selama ini hanya
menganggapku hanya sebagai teman.Sejak kecil,Aku dan dia sangat dekat..Bagaikan
bulan dan bintang yang slalu berdampingan.Dahulu aku hanya menganggapnya gak
lebih dari sosok menyebalkan,namun semenjak usiaku menginjak belasan tahun
ini.Aku merasakan hal yang berbeda denganya,aku mulai merasa cemburu ketika ia
dekat dengan seorang teman perempuanya.
Malam
ini seperti biasa,aku dan dia berada di bawah pohon yang berada diantara
rumahku dan rumahnya .Kami mengirimkan harapan-harapan kita pada Tuhan dengan
diterangi sebuah cahaya lilin kecil.Yaa,kami akan berdoa setelah lilin itu
dinyalakan dan akan berhenti jika cahaya lilin itu padam.
“Apa
doamu malam ini ?”,tanya Farhan kepadaku
“Aku
berdoa agar seseorang yang aku sayangi tau bahwa aku sangat
mencintainya”,ucapku padanya
“wah,pasti
kamu doain buat kakak kelas itu kan? Hahaha”,ia tertawa mengejekku
Aku
terdiam,aku memandang wajahnya yang kini mulai terbentuk wajah laki-laki yang
hendak dewasa.Farhan yang kecil telah menjadi sosok yang istimewa
dihatiku.Walaupun,dia takkan pernah tau tentang perasaanku & mungkin takkan
pernah membalas rasaku itu.Yaa,karena pada suatu ketika aku menjumpainya di
perpustakaan bersama seorang teman perempuan sekelasku.
“YUNAA
!”,dia menyapaku namun aku pura-pura tak melihatnya dan pergi menjauhinya.Karna
langkah Farhan lebih cepat dengan langkahku.Akhirnya aku pun terpaksa
berhenti,dan melihat mereka berdua bergandengan.
“YUN !
nanti pulang sekolah jangan pulang dulu ya :D aku nanti mau ngasih Traktiran PJ
buat kamu”,ia begitu bahagia mengatakanya
padahal kata-kata itu seperti petir yang menyambar-nyambar hatiku.Namun,aku
nggak boleh terlihat sedih ataupun terlihat cemburu di depan mereka berdua
karna bagiku kebahagiaan Farhan yang paling utama.
“WOY !
gimana yun ? bisa nggak”,ia menanyaiku lagi
“emm..maaf
ya far aku nanti ada tugas kelompok.mmm aku rasa aku harus pergi .. oiya
selamat ya”,aku pergi dari hadapan mereka
Setelah
Farhan Jadian sama Nayla,ia kini mulai jarang bareng aku lagi.Ia kini bagaikan
sopir,bodyguard,atau apalah bagi Nayla.Namun memang ini kenyataanya suka gak
suka,ini semua memang benar-benar terjadi.
Malam
ini ku berada di tempat biasanya aku dan Farhan bersama,walaupun terasa beda
namun aku nggak akan melupakan tempat ini.Selama gak ada Farhan aku hanya
menyalakan lilin hanya sampai setengah batang.Karna Aku dan Farhan telah
sepakat bahwa Sebatang Lilin ini akan menjadi saksi tentang harapan 2 orang
manusia.Dan aku selalu menaruh setengah batang lilin ini di sekitar tempat
pembakaran lilin.
Karna
malam sudah semakin dingin,Aku mulai menyalakan sebuah lilin dan tiba-tiba aku
merasakan rindu yang sangat mendalam kepada Farhan.
Tuhan,kini
aku benar-benar merasa sendiri.Karna ia,kini telah menjadi milik orang lain :’)
Tuhan,salahkah aku untuk menangisi semua ini?pantaskah aku untuk cemburu pada
Nayla? :’) Sampai kapan aku merasakan semua ini ? Apakah aku harus memendam
perasaan ini lebih lama lagi?
Dari
kejauhan ku lihat Farhan memasuki pintu rumahnya tanpa melihat ke arahku
sedikitpun.
Farhan..Aku
benar-benar merindukanmu. :’) sampai kapan kamu membuatku seperti ini? Merasa
tersakiti dengan perasaanku sendiri.
Bulan
berganti bulan,dan tahun pun juga turut berganti. Tiba saatnya kelulusan di SMA
ku.
Kini,Farhan
seakan menjadi orang lain bagiku.Boro-boro untuk menyapaku,kini melihatku saja
ia sudah enggan. Namun rasa ini,tetap bertahan di dalam hatiku yang sudah
beku.Beku karna dinginya sikap Farhan padaku.
(1 bulan
berlalu...Dan aku akan mengambil sebuah keputusan...)
Malam
ini adalah malam terakhir aku di Indonesia,karna keluargaku akan pindah rumah
keluar negri mengikuti Ayahku yang dipindah tugaskan.Namun,Sebelum aku pergi
meninggalkan tempat kelahiranku,ku menyempatkan diri untuk pergi ke tempat
istimewaku.Tempat dimana kenangan-kenangan itu masih tersinari oleh cahaya
lilin kecil.Sambil menghabiskan cahaya lilin di malam terakhirku ini,Ku
tuliskan sebuah surat untuknya,walaupun aku tak berharap banyak jika ia akan
membacanya.
Dear Sahabat Masalaluku
Farhan Arqitya
Bertahun-tahun kita telah bersama
farhan,dari kita masih ingusan,masih menjadi anak-anak nakal dan sampai kita
menjadi seperti ini.Farhan,asal kamu tau ? aku sangat merindukanmu :’) walaupun
kamu gak pernah menyadari itu..
Farhan,maafkan aku..aku harus jujur
tentang semua ini.Tentang perasaan yang aku simpan bertahun-tahun
lamanya.Farhan,Logiskah jika seorang sahabat yang lama bersama kini
menginginkan sahabatnya untuk menjadi kekasihnya? Salahkah jika perasaan itu
tumbuh dihatiku?dan PANTASKAH aku merasakan perasaan ini padamu???
Farhan,maafkan aku jika aku memiliki
perasaan itu...Ku berharap kedepanya perasaan ini tak akan muncul kembali
setelah ku utarakan semua ini padamu.
Oiya akupun sekalian ingin berpamitan
kepadamu bahwa mulai besok aku dan keluargaku akan pindah rumah ke Singapura.
Namun,aku minta satuhal padamu..Sisakan
ruang sedikit saja di dalam hatimu untuk aku sahabat kecilmu.Jika memang tak
bisa di dalam,di luarpun tak apa :’) karna aku,hanyalah cahaya lilin kecil yang
hampir padam tertiup angin.
Sahabatmu
Yunna Arrofa
Ku
letakan surat itu didekat bekas-bekas batang lilin yang pernah aku nyalakan
sebelumnya.Setelah cahaya lilin ini padam aku pun kembali kerumah.
Selang
berberapa waktu kemudian,Farhan datang ke tempat yang selama ini ia abaikan.
“Ahh
bodohnya aku selama ini !!! di bohongi oleh seorang Nayla.. padahal demi dia
aku mengabaikan Yuna dan melupakan tempat ini !!!”,Ia lalu mengambil sebuah
batang lilin
Setelah
tempat itu mulai tersinari cahaya lilin,terlihatlah bekas-bekas setengah batang
lilin dan sepucuk surat.Bekas-bekas batang lilin itu bagaikan saksi bisu bahwa
selama ini Yunna slalu menunggunya.Kemudian,Farhan membaca surat itu dan ia
terlihat sangat menyesal.
“maafkan
aku yuna :’ aku menyesali semua ini...ternyata selama ini kamu menungguku
bersama cahaya lilin kecil ini..kamu gak boleh pergi Yunaa !! gak boleh”,ia
berlari menuju ke jendela kamar Yunna
Ia
memanggil-manggil nama Yunna dan melemparkan kerikil kecil kearah kaca jendela
,namun tiada jawaban apapun karna suara Farhan dikalahkan oleh gemuruh Hujan.
Namun,usaha
Farhan tak sia-sia.Yunna yang sebelumnya menutup pintu Jendelanya kini membuka
jendela itu.
“Yunna
!!! aku mohon kamu turun sekarang !! aku mau ngomong smaa kamu YUNNA !”,ia
berteriak sekeras-kerasnya
Akhirnya
Yunna turun kebawah dan menemui Farhan di tengah derasnya Hujan.
“Yunna
aku mohon maafin aku ?jangan pergi tinggalin aku yun..”,Farhan kini berlutut di
depanku
“maafkan
aku farhan,namun rencana kepindahanku tak akan bisa diubah”,aku mulai terisak
dalam tangisku
“Tapi
yunna !! aku mencintaimu lebih dari sahabat ..kamu adalah satu-satunya wanita
yang tulus mencintaiku ..aku mohon Yunna jangan pergi “,Farhan benar-benar
memohon seakan tak peduli moralnya sebagai laki-laki
“Farhan,kini..
Cahaya lilin kecil telah padam ..Karna banyak badai,hujan dan petir yang seakan
selalu memadamkan apinya.Cahaya lilin itu kini benar-benar telah mati.. skali
lagi maafkan aku Farhan”,Ucapku sambil membuat Farhan berdiri
“baiklah
yunna,jika memang tak ada kesempatan lagi untukku..aku akan menunggumu sampai
kapanpun !”,ia kemudian pergi begitu saja meninggalkanku......
Tak selamanya yang bercahaya terang itu
akan selalu menerangi kita,karna justru
cahaya terang itu mampu dengan mudah membakar kita dengan apinya.Tidak seperti
cahaya lilin kecil,yang menghangatkan kita secara perlahan namun ia akan selalu
menemani kita walaupun angin dan badai seakan ingin padamkan sinarnya.Namun
Cahaya lilin kecil itu telah padam,dan mungkin tak akan pernah bisa bercahaya
lagi..